Daily Archives: December 10, 2011

SAS Inggris; Afghanistan 2002

.

Pasukan khusus Inggris telah berada di garis terdepan dalam “Perang melawan teroris” saat ini. Dalam waktu tiga minggu setelah serangan 11 September 2011, elemen-elemen SAS telah dikirim ke Afganistan. Misi mereka menyerang sel-sel teroris Al-Qaeda yang beroperasi dari markas di seluruh pelosok negeri dan membantu menyingkirkan rezim Taliban yang berkuasa di Afghanistan, yang menjadi suporter utama kampanye Al-Qaeda melawan Barat.

Mengirimkan SAS British ke Afghanistan pasca serangan teroris 11 September 2011 adalah sebuah langkah yang lazim dilakukan. Pada saat pendudukan Soviet atas negara tersebut (1979-1989), unit-unit SAS telah menyusup untuk membantu Mujahidin (Pejuang suci) dalam perang pemberontakannya melawan Soviet dan para komunis Afghanistan. Selama masa tersebut, SAS telah benar-benar memahami medan dan juga pola hidup masyarakat Afghanistan. Mereka juga memiliki keahlian yang relevan dalam operasi di Afghanistan: Mountain Troop di dalam Sabre Squadron SAS memiliki keahlian memanjat tebing dan gunung dalam keahlian tingkat tinggi, untuk menaklukkan medan Afghanistan yang ganas dan bergunung-gunung, sejumlah prajurit SAS juga mampu berbicara bahasa dalam dialek lokal seperti lokal Pashto dan Dari.

PENUGASAN DAN AKSI PERTAMA

Unit-unit SAS beroperasi di Afghanistan dalam jangka waktu kurang dari tiga minggu setelah peristwa 11 September 2001. kontak tembak pertama antara pasukan Taliban dan SAS terjadi pada akhir bulan September di perbukitan yang mengelilingi ibukota Afghanistan, Kabul. Ini merupakan operasi pengintaian untuk mengetahui respon Taliban. Pasukan SAS terlibat baku tembak, melukai lawan, lalu mengundurkan diri atau menghilang secepat mungkin.

Unit-unit SAS di wilayah Afghan bekerjasama dengan Pasukan Elite AS. Tujuan utamanya adalah untuk meng-kordinasikan serangan terhadap kamp Pelatihan dan markas-markas militer Al-Qaeda, serta memburu pemimpin Al-Qaeda yang piawai dalam bersembunyi, Osama Bin Laden. Sebanyak 6 kamp latihan besar berhasil diidentifikasi.

Menggunakan laser penanda target, SAS mengarahkan bom yang dijatuhkan melalui pesawat dan mengarah langsung ke kamp musuh dan seketika itu menghancurkan kamp tersebut. Saat serangan udara tidak dimungkinkan, mereka melaksanakan serbuan cepat lintas udara menggunakan helikopter.

Sebagai bagian dari penugasan singkat SAS untuk membantu Aliansi Utara Afghan dalam perjuangannya melawan Taliban, mereka mengatur serangan udara terhadap posisi Taliban, melatih para prajurit Aliansi Utara menggunakan senjata canggih, dan seringkali juga membantu pasukan Aliansi dalam pertempuran.

PERTEMPURAN BESAR

Pada 25-27 November di sebuah benteng abad ke-19 di utara Mazar –Sharif, 600 tahanan Taliban yang ditawan memberontak. Setelah membunuh seorang interogator AS, mereka menyerbu gudang senjata yang dipenuhi berbagai senapan serbu dan peluncur roket buatan Rusia. Pertempuran sengit pun pecah. Unit-unit SAS dan pasukan elite AS dioperasikan, melancarkan serangan udara besar-besaran terhadap posisi para tahanan yang memberontak. Namun beberapa bom salah sasaran, melukai anggota SAS dan membunuh sejumlah sekutu Afghan. SAS terlibat dalam kontak tembak besar-besaran dengan para tahanan, para tahanan yang tewas mencapai 50 orang dan yang para tahanan yang tersisa akhirnya memutuskan untuk menyerah.

Aksi SAS besar-besaran terjadi pada Operasi Anaconda (Maret 2002). unit-unit SAS membantuk gerak besar-besaran pasukan AS untuk membersihkan Taliban dan titik-titik pertahanan Al-Qaeda di pegunungan Shah-i-kot di timur Afghanistan.

Perang di Afghanistan berakhir pada pertengahan 2002 dengan terjungkalnya rezim Taliban. Dan tidak diragukan lagi, SAS British telah melakukan banyak operasi-operasi rahasia untuk menghentikan dan menanggulangi aksi dari para teroris Taliban.

submachine gun (SMG)

 

Submachine gun telah menempatkan diri mereka sebagai senjata militer dan senjata pasukan khusus yang paling praktis. Daya tembaknya yang senyap dan mematikan menjadi andalannya, dan juga ukurannya yang ringan dan fleksibel, membuat senjata jenis ini sangat digemari, dan seringkali digunakan dalam setiap operasi khusus, khususnya untuk misi penyelamatan sandera di daerah perkotaan. Senjatanya juga dapat dibawa dengan mudah dan penggunaannya sangat simpel. SMG juga sering dipakai untuk tim perlindungan dan juga pengamanan sipil.

.

.

 

Mini Uzi (1981)

Mini-Uzi adalah versi praktis dari Uzi model pertama. Senjata ini menyimpan 20, 25 hingga 32 peluru dalam satu magazine. Biasanya dipakai dalam institusi penegak hukum kepolisian dan tim pengamanan khusus.

  • Panjang : 36 cm (14,2 inci)

  • Berat : 2,7 kg (5,9 pon)

  • Kecepatan tembak : 950 rpm (950 peluru per-menit)

  • Kaliber : 9mm

 .

.

.

Submachine gun Uzi

SMG Uzi dikembangkan dan didesain pada tahun 1950-an oleh Uziel Gal dari Israel (1923-2002), yang kemudian namanya (Uzi) diabadikan untuk senjata ini. Uzi dibuat oleh Israeli Military Industries dan telah menjadi inspirasi bagi banyak senjata serupa di seluruh dunia. Sejak model pertama Uzi diluncurkan, varian lain pun telah banyak yang muncul, termasuk Mini Uzi (1981) dan Micro Uzi (1982). Uzi telah disekspor ke lebih dari 90 negara. Versi lainnya telah dibuat dan diadposi oleh banyak unit Pasukan Khusus termasuk US Secret Service. Dan lebih dari 10 juta senjata Uzi yang telah diproduksi.

.

.

.

MAC 10 (1970)

MAC memiliki magazine 32 peluru dan mampu mengisi ulang magazine dalam satu gerakan yang memakan waktu 1,5 detik. Popor besi yang ringan dapat disorongkan ke belakang untuk kenyamanan penembak. Senjata ini dikembangkan oleh pabrik industri senjata Amerika, Military Armament Corporation (MAC). Oleh karena itu senjata ini dinamakan seperti nama pabrik pembuatnya (MAC).

  • Panjang : 30-56 cm (11,8-22 inci)

  • Berat : 2,7 kg (5,9 pon)

  • Kecepatan tembak : 1.280 rpm

  • Kaliber : 9mm

 .

.

.

FN P90 (1990)

FN P90 adalah senjata SMG dengan desain canggih dari FN (Fabrique Nationale) dari Belgia. Ditujukan bagi para penegak hukum kepolisian, senjata ini memiliki efek tolak balik kecil, dengan magazine atas yang kompatibel dan efisien. Dan memiliki kecepatan lesatan peluru yang tinggi.

  • Panjang : 50 cm (19,7 inci)

  • Berat : 2,5 kg (5,5 pon)

  • Kecepatan tembak : 900 rpm

  • Kaliber : 5,7mm

 .

.

.

Baretta M12 (1959)

Baretta M12 telah diadopsi kepolisian Italia (Carabinieri) dan unit-unit militer di seluruh dunia. M12 memiliki lesatan peluru akurat hingga 200 meter (658 kaki), dan dapat dipasang magazine dengan kapasitas peluru; 20,32 atau bahkan 40 peluru.

  • Panjang : 41,8-66 cm (16,5-26 inci)

  • Bobot : 3,2 kg (7 pon)

  • Kecepatan tembak : 550 rpm

  • Kaliber : 9mm

 .

.

.

AUG PARA (1986)

Senjata berjenis SMG ini diturunkan dari keluarga senjata AUG. didesain dan dibuat oleh pabrik pembuatan senjata Austria, Steyr. Untuk jenis SMG ini, larasnya diperpendek untuk membuatnya tampak kecil dan sesuai dengan pasukan lintas udara. Magazinenya dapat menampung 20 dan 32 peluru.

  • Panjang : 66,5 cm (26 inci)

  • Berat : 3,3 kg (7,3 pon)

  • Kecepatan tembak : 700 rpm

  • Kaliber : 9mm

 .

.

.

Heckler & Koch MP5 (HK-MP5)

Diperkenalkan pada 1964, submachine gun MP5 berkaliber 9mm dibuat oleh pabrik senjata Jerman Heckler & Koch, menghadirkan penyempurnaan desain atas submachine gun pendahulunya pada masa itu. MP5 menampilkan banyak inovasi desain, khususnya mekanisme penembakan dan dibuat dengan standar tinggi. Hal ini berujung pada diadopsinya MP5 oleh banyak Pasukan Elite didunia, dan yang paling terkenal adalah penggunaan MP5 oleh Pasukan Khusus SAS British.

 .

.

.

MP5SD (1975)

Senjata ini didesain untuk penggunaan khusus dimana suara dan cahaya akibat tembakan harus diredam. Seperti misi rahasia dan juga misi-misi untuk membunuh musuh secara senyap. Menggunakan magazine 15 atau 30 peluru. Memiliki jarak efektif 100 meter (328 kaki)

  • Panjang : 55 cm (21,6 inci)

  • Berat : 2,9 kg (6,3 pon)

  • Kecepatan tembak : 800 rpm

  • Kaliber : 9mm

 .

.

.

MP5 NAVY (1980)

Salah satu varian MP5 yang didesain khusus untuk US Navy SEAL. MP5N dapat menggunakan 15 atau 30 peluru dan memiliki jarak tembak efektif 100 meter (328 kaki).

  • Panjang : 49-96 cm (19,2 – 27,1 inci)

  • Berat : 2,55 kg (5,61 pon)

  • Kecepatan tembak : 800 rpm

  • Kaliber : 9mm

 .

.

.

MP5K (1976)

Jenis varian ini didesain untuk pertempuran jarak dekat, versi K (dari bahasa Jerman, Kurz; yang berarti; pendek). Senjata ini dapat dengan mudah dibawa, dan disembunyikan. Senjata ini sangat ringan sehingga memudahkan si penembak dalam melakukan aksinya. Magazine 30 peluru, dan memiliki jarak tembak efektif 50 meter (164 kaki).

  • Panjang : 32 cm (12,5 inci)

  • Berat : 2 kg (4,4 pon)

  • Kecepatan tembak : 900 rpm

  • Kaliber : 9mm

 .

.

.

MP5A3 (1964)

Varian ini memiliki popor belakang yang dapat dimasukkan ke dalam, untuk mengurangi panjang senjata, dan juga dapat ditarik keluar, untuk memudahkan si penembak dalam membidik sasaran dan menambah akurasi bidikan. Magazinenya dapat memuat 15 atau 30 peluru, MP5A3 memiliki jarak tembak 100 meter (328 kaki).

  • Panjang : 49-96 cm (19,2 – 27,1 inci)

  • Berat : 2,55 kg (5,61 pon)

  • Kecepatan tembak : 800 rpm

  • Kaliber : 9mm

 .

.

.

.

Mekanisme penembakan senjata MP5

MP5 memiliki mekanisme penembakan khusus yang menggunakan bolt tertutup. Sebagian besar SMG (submachine gun) ditembakkan dari bolt terbuka, yang berarti saat pelatuk ditarik, bolt melesat kedepan untuk memasukkan peluru ke kamar peluru dan kemudian menembakkannya. Hasilnya adalah perubahan keseimbangan senjata, yang dapat menurunkan akurasi dan mengakibatkan tembakan tak mengenai sasaran. Akan tetapi, MP5 memiliki bolt tertutup. Semua yang terjadi pada saat pelatuk ditarik adalah hanyalah palu pemukul (hammer) yang dilepaskan, yang lalu melesatkan peluru.

 

Desain MP5

Desain varian MP5 sangat luar biasa. Sebagian besar bahannya terbuat dari baja berkualitas tinggi. Dapat ditembakkan dalam segala kondisi cuaca dan medan yang berat, seperti di medan berlumpur dan basah.

Senapan serbu (Assault Rifle)

Senapan serbu adalah senjata standar bagi semua unit militer dan juga unit Pasukan Khusus. Mampu menembak dengan lesatan peluru yang memiliki efek damage besar dan jarak tembakan efektifnya yang lebih tinggi. Ada berbagai macam dan varian dari Senapan serbu, dan masing-masing disesuaikan dengan kebutuhan operasi militer yang spesifik. Mulai dari AK-47, M16, dan M4A1 yang masing-masing memiliki spesialisasi tersendiri. Senapan serbu adalah bagian yang tak terpisahkan dari perlengkapan para prajurit yang bertempur.

.

.

AK-47 (1974)

Didasarkan pada AK-47 yang diciptakan oleh Timofeyevich Kalashnikov (kelahiran 1919), AK-47 buatan Rusia sangat populer karena kahandalan, kebandelan dan kemudahan dalam segi perawatannya. Senapan serbu ini populer dan telah dikenal reputasinya di seluruh dunia. Senjata ini tahan di segala jenis medan, dan masih bisa digunakan walaupun terkena air maupun lumpur. AK47 Sering digunakan oleh kelompok-kelompok teroris dan kelompok pemberontak. Kapasitas magazine nya 30 peluru dan senapan serbu ini memiliki jarak tembak efektif 500 meter (1.625 kaki).

  • Panjang : 94,3 cm (37,1 inci)

  • Berat : 3,4 kg (7,5 pon)

  • Kecepatan tembak : 600 rpm (600 peluru per-menit)

  • Kaliber : 5,45mm

.

.

.

Colt M16 A2 (1982)

Senapan serbu ini digunakan oleh US Marine Corps (USMC). M16-A2 memiliki jarak tembak efektif 500 meter dan magazinenya memuat 30 peluru. Senapan serbu ini hingga saat ini telah diproduksi di banyak negara di seluruh dunia dan menjadi senjata standar bagi pasukan-pasukan reguler.

  • Panjang : 100 cm (39,4 inci)

  • Berat : 3,4 kg (7,5 pon)

  • Kecepatan tembak : 800 rpm

  • Kaliber : 5,56mm

 .

.

.

Galil (1972)

Senapan serbu ini adalah senjata buatan Israel dan digunakan oleh Pasukan Israel termasuk Pasukan Elite Special Emergency Response Team yang berkekuatan 25 orang, yang dikenal juga sebagai Force 100. Senjata ini terkenal karena performanya yang baik dan tahan terhadap segala kondisi cuaca dan medan yang tidak bersahabat. Kapasitas magazinenya 25 peluru dan jarak efektifnya 600 meter (1.950 kaki).

  • Panjang : 105 cm (41,3 inci)

  • Berat : 4,4 kg (9,7 pon)

  • Kecepatan tembak : 650 rpm

  • Kaliber : 7,62mm

 .

.

.

SA80 (1986)

Senapan serbu SA80 adalah senjata tempur standar British Army, dibuat oleh Heckler & Koch (UK). Senapan serbu ini juga digunakan oleh Parachute Regiment dan Royal Marines (British). Optik pembidiknya memberikan zoom sebesar 4x, meningkatkan akurasi bidikan. Magazinenya menampung 30 peluru dan memiliki jarak tembak 500 meter (1.625 kaki).

  • Panjang : 78,5 cm (30,9 inci)

  • Berat : 3,8 kg (8,4 pon)

  • Kecepatan tembak : 650 rpm

  • Kaliber : 5,56mm

 .

.

.

FAMAS (1980)

Senapan serbu ini digunakan oleh Legiun Asing Perancis. FAMAS diseimbangkan dengan sempurna di area sekitar gagang pistolnya. Meskipun memiliki desain yang agak aneh, namun senapan serbu ini sangat populer karena kemudahan dalam penggunaannya. Magazinenya memuat 30 peluru dan memiliki jarak tembak efektif 450 meter (1.460 kaki).

  • Panjang : 75,7 cm (29,8 inci)

  • Berat : 3,7 kg (8,1 pon)

  • Kecepatan tembak : 950 rpm

  • Kaliber : 5,56mm

 .

.

.

FN FNC (1976)

FN FNC adalah senapan serbu pilihan untuk Para Komando Belgia. FNC dilengkapi dengan popor lipat, yang sangat ideal untuk pasukan lintas udara. Magazinenya berisi 30 peluru dan memiliki jarak tembak efektif 550 meter (1.780 kaki).

  • Panjang : 65,6 – 100 cm (29,8 – 39,4 inci)

  • Berat : 3,8 kg (8,4 pon)

  • Kecepatan tembak : 700 rpm

  • Kaliber : 5,56mm

 .

.

.

M4 Carbine (1994)

Senapan serbu M4 ini adalah varian senapan serbu terbaru dari keluarga senapan serbu M16, yang didasarkan pada desain asli AR-15 yang didesain oleh Eugene Stoner dan dibuat oleh ArmaLite. Ukurannya lebih pendek dengan tampilan desain yang mengagumkan, hampir 80% desainnya memiliki kesamaan dengan varian-varian M16 pendahulunya. Saat ini, M4 Carbine menggantikan senapan serbu M16, dan banyak digunakan oleh militer Amerika Serikat dan juga unit-unit militer di seluruh dunia. Magazinenya berisi 30 peluru dan memiliki jarak tembak efektif 500 meter.

  • Panjang : 33 inci (840 mm)

  • Berat : 3,1 kg

  • Kecepatan tembak : 700-950 rpm

  • Kaliber : 5,56mm

 .

.

.

HK36C (1997)

Heckler & Koch G36 adalah senapan serbu berkaliber 5.56 x 45mm, didesain pada awal permulaan tahun 90an oleh Heckler & Koch di Jerman. Senapan serbu ini menggantikan senapan serbu G3 berkaliber 7.62mm. Sering digunakan oleh unit-unit militer dan juga pasukan reguler karena kehandalannya dan desainnya yang tidak kalah dari senapan serbu M4 Carbine buatan AS. Memiliki jarak tembak efektif 800 meter dan kapasitas magazine 30 peluru.

  • Panjang : 228 mm (9.0 in)

  • Berat : 2.82 kg (6.2 lb)

  • Kecepatan tembak : 750 rpm

  • Kaliber : 5,56mm

.

.

.

.

MEMBONGKAR SENJATA

Salah satu pertimbangan terpenting dalam hal desain senjata untuk jenis senapan serbu adalah kemudahan perawatan senjata di lapangan. Senapan serbu individu ini adalah bagian terpenting dari operasi militer di medan tempur. Seorang prajurit yang mengoperasikan senapan serbu ini harus mampu menjaga senjatanya tetap dalam keadaan yang baik dengan upaya minimal dalam keadaan dan kondisi apapun. Seorang prajurit harus mampu membongkar dan merawat senjatanya sendiri sampai pada tingkat tertinggi dimana ia harus mampu melakukannya dalam keadaan gelap gulita sekalipun. Sepucuk senapan serbu yang tidak dirawat, besar kemungkinan senjata tersebut akan macet ataupun rusak, jika sudah begitu, maka nyawa seorang prajurit lah yang menjadi taruhannya.

Sepak terjang Prajurit Gurkha di Malaya

 

Tahun 1960-an merupakan periode yang penuh gejolak bagi Inggris. Selain menghadapi puncak perang dingin di kandang sendiri, wilayah persemakmuran Inggris di Asia Tenggara juga mengalami banyak masalah dan ancaman keamanan yang tidak ringan.

Tanggal 1 Februari 1948, yang menandai terbentuknya Federasi Malaya menjadi awal dari serangkaian pemberontakan etnis melayu yang berpaham komunis. Dilatih oleh Inggris dalam Perang Dunia II untuk menghadapi Jepang, mereka akhirnya tergabung dalam MNLA (Malaya National Liberation Army), dan justru bertujuan untuk menggulingkan kekuasaan mantan pelatihnya. Ketika pada tahun 1948, MNLA bertindak di luar batas dengan membunuh tiga administrator perkebunan karet, yang ketiganya merupakan warga negara Inggris, genderang perang pun ditabuh. Inggris mengirimkan kontingen pasukannya di bawah komando Field Marshal Sir Gerard Templer, termasuk pasukan Gurkha, yang dikirim ke Malaysia untuk meredam pemberontakan yang dikenal dengan; Malaya Emergency.

Pasukan dari 2-9th Gurkha Rifles di Malaya

.

.

Pasukan Gurkha pun dimekarkan, ditandai dengan pembentukan 17th Gurkha Infantry Division dan 17th Gurkha Division Signal Regiment secara bertahap. Inggris merancang operasinya dengan dua wajah berbeda; pada rakyat sipil yang tersebar di berbagai daerah, Inggris melancarkan kampanye hearts and minds dalam bentuk pengobatan gratis, penyuluhan pertanian, dan pengamanan perkampungan- melakukan pendekatan pada rakyat agar mereka terpisahkan dari pemberontak komunis yang hendak diperangi. Pada para komunis, Inggris tanpa kenal ampun melancarkan patroli-patroli hunter and killer dengan panduan pencari jejak (tracker) dari suku Dayak Iban dan Gurkha. Keduanya memiliki kesamaan, kebanggaan tempur dengan memenggal dan mengoleksi kepala lawan sebagai bukti kemenangan mereka. Paduan dari dua operasi tersebut sesungguhnya merupakan inti dari peperangan kontra-gerilya (counter-insurgency), yang kelak dimanfaatkan untuk mengalahkan Indonesia dalam permainannya sendiri saat konflik Indonesia-Malaysia.

.

 

Perdana Menteri Federasi Malaysia, Tunku Abdul Rahman

.

.

KONFRONTASI

Pada 27 Mei 1961, Inggris dan Perdana Menteri Federasi Malaysia, Tunku Abdul Rahman, mengadakan pembicaraan mengenai pembentukan Malaysia yang mencakup; Malaya, Sabah, Sarawak, Brunei dan Singapura. Awalnya, Presiden Soekarno melalui Menteri Luar Negeri Subandrio menyatakan bahwa Indonesia tidak keberatan dengan rencana pembentukan negara Malaysia. Namun peristiwa pada 8 Desember 1962 mengubah segalanya. Seorang politisi kiri, Dr.AM Azahari bin Sheikh Makhmud melancarkan pemberontakan di Brunei dengan payung TNKU (Tentara Nasional Kalimantan Utara). Dengan kekuatan mereka yang berjumlah 4.000 orang, namun dengan persenjataan yang minim. Ia melancarkan kampanye untuk menangkap Sultan Brunei dan ekspatriat Inggris yang bekerja sebagai konsultan perusahaan minyak. Untuk mencegah keadaan semakin memburuk, Inggris mengirimkan 1st Battalion, 2nd King Edward VIII Own Gurkha Rifles. Mereka dikumpulkan pada 7 Desember, pukul 7 malam, para prajurit Gurkha sudah mendarat dengan helikopter pada pagi harinya di Bandar Seri Begawan. Mereka berbaris rapi dengan menghunus pisau Khukri mereka. Konon, begitu mendengar kedatangan tentara Gurkha, para pemberontak pun lari terbirit-birit

Biarpun Brunei dapat diselamatkan, Kiprah Gurkha tak lantas berhenti di sini. Dr. Azahari yang lari masih belum kapok. Ia malah pergi ke Indonesia dan minta bantuan Subandrio. Subandrio yang melihat kesempatan untuk lepas dari bayang-bayang Angkatan Darat yang semakin besar pengaruhnya setelah keberhasilan Trikora, mendukung gerakan Azahari. Azahari diberi fasilitas untuk menyusun kabinet TNKU di Kalimantan, dan puncaknya terjadi pada 20 Januari 1963, yaitu saat Subandrio mendeklarasikan bahwa Indonesia akan menempuh jalur militer dengan Malaysia. Ditambah lagi PKI yang terus memberontak, api dalam sekam akhirnya terbakar jua ketika Negara Federasi Malaysia berdiri pada 13 September 1963, sebelum diumumkannya hasil investigasi PBB. Presiden Soekarno akhirnya memakan umpan konfrontasi tersebut, dengan melancarkan kampanye Dwikora pada 3 Mei 1964- yang bertujuan untuk mengganyang Malaysia yang telah menjadi boneka Inggris. Dwikora seakan menjadi pengesahan bagi ribuan sukarelawan Indonesia yang disusupkan ke perbatasan, untuk melakukan aksi sabotase dan pembunuhan terhadap para tentara dan polisi Malaysia.

Pendaratan Pasukan SAS British yang baru saja tiba di Borneo, Kalimantan

.

Inggris tentu tidak tinggal diam melihat wilayah persemakmurannya dirongrong begitu saja. Inggris lalu mengirimkan pasukan terbaiknya, RM Commando dan 22 SAS untuk melakukan operasi kontra-insurjen ke wilayah perbatasan Malaysia-Indonesia, dan tentu saja Gurkha sebagai pasukan infantri utama Inggris di Borneo. Pengiriman Gurkha sebagai line infantry bukan tanpa alasan. Gara-gara Sandys Defense Whire Paper 1957 yang menekankan pada kemampuan detterent nuklir, Inggris menciutkan kekuatan militernya, terutama untuk memotong anggaran besar pasca PD II. Di tahun 1960, AD Inggris hanya mempunyai 60 batalion tempur, dimana 20 batalion dikirim ke Timur Tengah dan 24 lainnya ditempatkan di Eropa untuk membendung invasi Soviet yang ternyata tak pernah terwujud, dan sisanya lagi ada di Inggris. Sejarah kemudian membuktikan, bahwa tahun 1960-an diwarnai oleh perang berskala kecil, dan Inggris nyata-nyata tak siap sehingga membesarkan kekuatan tentara Gurkha sampai ke tingkat Divisi.

Pasukan Inggris- RM (Royal Marines) Commando, yang ditugaskan untuk menumpas Tentara Indonesia

.

Kontingen Gurkha di Borneo dipimpin oleh Mayor Jenderal Walter Walker, GOC (General of ficer Commanding) 17th Gurkha Division yang juga bertindak sebagai Direktur Operasi (DOBOPS= Director of British Operation) Inggris di Borneo. Empat Resimen Gurkha akhirnya diluncurkan, antara lain 2nd, 6th, 7th, dan 10th Gurkha, ditambah lagi dengan Gurkha Signal, Gurkha Artillery, dan Gurkha Engineer yang dibentuk belakangan. Pasukan tiba di Borneo pada Desember 1962 dan langsung diterjunkan untuk melancarkan operasi dalam menghadapi infiltran Indonesia. Dalam melaksanakan operasi, Mayjend Walter Walker menggariskan enam butir aturan dasar yaitu operasi gabungan antara polisi dan tiga cabang Angkatan Bersenjata (AD, AL, dan AU), Informasi intelijen yang tepat dan akurat, kecepatan, mobilitas, dan fleksibilitas, pengamanan markas, dominasi atas hutan rimba, serta memenangkan kepercayaan penduduk pribumi. Diterjunkan dalam sebuah tempur, Gurkha dengan cepat membuktikan kemampuan mereka. Pada 18 Mei 1963, Pasukan 27th Gurkha Rifles berhasil menewaskan Yassin Efendi, pemimpin pemberontakan TNKU melalui penyergapan di Kampong Sendang, di muara rawa-rawa sungai Brunei.

.

Para personel RPKAD Indonesia- yang diterjunkan dalam
Konfrontasi Malaya

.

Dalam pertempuran berikutnya yang melibatkan Gurkha, sukarelawan Indonesia melakukan infiltrasi jauh ke dalam Sarawak. Pada 28 September 1963, Infiltran Indonesia menyerang Pos aju di Long Jawai yang dijaga enam pasukan Gurkha dari 1/2nd Gurkha Rifles, tiga polisi, dan 21 Dayak Iban. Pasukan Gurkha terpaksa meninggalkan pos mereka setelah dihujani mortir 60mm dan senapan mesin otomatis, namun CO 1/2nd Gurkha Rifles, Letkol Clements, MC, memerintahkan pengejaran menggunakan helikopter Westland Wessex milik 845 Naval Air Squadron Fleet Air Arms.

Operasi pengejaran segera dilakukan dengan lingkaran patroli yang semakin mengecil. Akhirnya pada 1 Oktober para prajurit Gurkha mendapatkan sasaran mereka, yaitu satu regu sukarelawan yang dipimpin oleh Lt. Pashbandur- sedang mengintai di tepian sungai dan mendapati dua long boat berisi orang-orang berseragam TNKU. Dengan segera, satu long boat itu dihiasi lubang-lubang dari terjangan peluru L1A1 SLR yang ditembakkan pasukan Gurkha, sampai kemudian long boat tersebut tenggelam. Meninggalkan 26 mayat sukarelawan Indonesia yang menggambang di sungai yang keruh tersebut. Satu long boat lain berhasil dikejar, didalamnya terdapat Radio komunikasi milik Gurkha yang dirampas dan mortir yang digunakan untuk menyerang di Long Jawai sebelumnya.

Sukses besar KKO dalam melancarkan raid di Kalabakan mengundang kedatangan kompi B dan C dari 1/10th Gurkha yang digeser dari Malaka, yang dipimpin sendiri oleh Letkol Burnett. Semakin ahli dalam operasi pengejaran, Gurkha pun dikerahkan untuk mengevakuasi seluruh penduduk dusun dan kampung yang ada disekitar Tawau, serta menghentikan layanan bus umum yang digantikan oleh truk militer. Hasilnya segera tampak, sampai dengan 17 Januari 1964. 15 Sukarelawan berhasil dibunuh dan enam prajurit KKO berhasil ditawan. Dan pada akhir Februari, 96 sukarelawan berhasil dibunuh atau ditangkap, dan 21 KKO ditawan atau gugur.

Satu Prajurit KKO Indonesia yang berhasil ditangkap pasukan Gurkha

.

.

.

.

VICTORIA CROSS UNTUK GURKHA

Akhir tahun 1964 menjadi awal berbaliknya keadaan. PM Harold Wilson yang memegang kendali pemerintahan Inggris setelah memenangkan pemilu, adalah pendukung berat persemakmuran dan cenderung hawkish. Wilson mengizinkan rencana Walter Walker untuk membuat Indonesia menelan pil pahitnya sendiri, dengan melakukan penyerangan melintasi perbatasan dan masuk ke dalam wilayah Indonesia. Sandi operasi ini adalah Claret, yang belum semua informasinya dibuka sampai sekarang.

Walaupun Claret lebih ditujukan bagi SAS untuk melakukan sabotase di wilayah Indonesia, akan tetapi Gurkha juga terlibat didalamnya, dimana saat itu kondisi yang mengharuskan untuk membawa banyak pasukan ke medan konflik. Pada awalnya Claret hanya diotorisasi sejauh 3km dari garis perbatasan, lalu diperluas lagi menjadi 10km, semua dilakukan tanpa pemberitahuan formal ke parlemen Inggris. Serbuan lintas batas Gurkha dilaksanakan pada 4 Agustus 1964 dalam suatu serangan ke Nantakor, selatan Pensiangan. Dalam serangan yang dilakukan kompi A, 1/2nd Gurkha dibawah pimpinan Mayor Digby Willoughby berhasil membunuh enam prajurit Indonesia dari Batalion 518. inilah pertama kalinya dalam 20 tahun Gurkha kembali bertempur di wilayah Indonesia. Pada Januari 1965, inkursi oleh pasukan Gurkha semakin nekat dan berani. Pasukan 2/10th Gurkha melakukan pengintaian di desa Sadjingan yang dihuni sekitar 100 orang. Lokasinya kurang lebih 5km dari Biawak. Data Intelijen awal menyebutkan bahwa ada 50 prajurit dari Batalion 428 Raider mendirikan bivak di desa tersebut, yang lokasinya terpisah dari pemukiman penduduk. Maka dilancarkanlah operasi Super Shell, serbuan mendadak 2/10th Gurkha menyebabkan Indonesia kehilangan rute logistik melalui sungai Koemba.

 

Wilayah Hutan Kalimantan yang lebat- pada masa-masa konflik

.

Tahun 1965 juga menandai perubahan peruntungan bagi Gurkha seiring dengan meningkatnya ancaman yang ditebar Indonesia. Inggris akhirnya memberikan perhatian penuh dan serius untuk operasi militer mereka di Borneo. Setelah kunjungan Lord Louis Mountbatten yang merupakan Chief Defence Staff, Gurkha mendapatkan berbagai macam peralatan tempur baru. L1A1 SLR yang berat, panjang dan tak sesuai dengan fisik mereka yang pendek dan gempal, digantikan dengan Armalite AR-15 5,56 x 45mm yang merupakan pendahulu M16. Senapan serbu alumunium ini begitu ringan, kurang dari 4kg sehingga lebih bersahabat dengan postur tubuh prajurit Gurkha. Senjata baru seperti pelontar granat M-79 ‘thumper’ juga diperkenalkan, termasuk ranjau anti-personel M18A1 Claymore yang sangat bermanfaat untuk menghambat kejaran pasukan lawan saat kembali ke wilayah Malaysia.

Peralatan baru ini dipergunakan dengan efektif pada 21 November 1965, menjelang akhir masa konfrontasi. Pada hari itu, 2/10th Gurkha Rifle dibawah pimpinan kapten ‘Kit’ Maunsell merencanakan operasi Timekeeper, yang didukung kompi intai markas dan peleton pionir serangan. Sasarannya adalah markas peleton tentara Indonesia- tidak ada keterangan dari unit apa, tapi kemungkinan dari Divisi Diponegoro- di gunong Tepoi, 4km dari perbatasan. Lokasi markas tentara Indonesia di gunong Tepoi terletak di atas bukit yang memiliki tiga tebing, dengan lembah disekitarnya masih tertutupi hutan primer yang lebat.

 

Sersan Bharnabahadur Rai dari Batalion 1- 10th Gurkha Rifles di hutan Malaya

.

.

Lokasi gunung Tepoi ditemukan oleh Letnan Ranjit Rai dari 7th Platoon, yang dengan segera dilaporkan dan diperiksa sendiri oleh Kapten Maunsell dan Letnan Bahagat Bahadur Rai. Kamp yang dibangun di gunong Tepoi masih setengah jadi, puluhan orang terlihat tengah bekerja membangun rumah induk dari bahan kayu. Kapten Maunsell mendapat kabar bahwa di Babang terdapat sejumlah bivak pasukan Indonesia, ada pula mortir 60mm yang menjadi ancaman bila Gurkha nanti berniat mengundurkan diri.

Memanfaatkan situasi pasukan Indonesia yang kurang waspada. Kapten Maunsell memimpin Gurkha nya untuk melancarkan serbuan pada pagi itu juga. Kompi bergerak ke arah barat dengan iring-iringan peleton 7,8, Recce, dan 9 bergerak dengan gesit namun terlihat samar-samar dan tenang, semuanya menyantap sarapan pagi mereka, mereka memakan semua makanan dengan tenang tanpa berbicara sepatah kata pun. Kapten Maunsell yang memimpin di depan bersama tiga Gurkha membuka jalan menembus vegetasi hutan yang lebat. Mereka tidak menggunakan kukri atau parang- suara ayunannya terlalu menarik perhatian. Sebagai gantinya, mereka menggunakan gunting tanaman. Menggunakan gunting tanaman tentu memakan waktu lama, tapi senyap. Mereka membuka jalan sejauh 400meter, sebelum akhirnya tiba di ujung hutan yang menghadap tebing selatan tepat pada pukul 13:30. mereka merayap ke atas bukit, dan hampir sampai di atas ketika seorang prajurit Indonesia muncul, mata bertemu mata, semua sama terkejutnya. Si prajurit Indonesia sibuk melepas tali sandang AK-47 nya, Ia pasti menyesali ketidaksigapannya saat timah panah dari senjata serbu AR-15 bersarang di tubuhnya dan seketika menewaskannya. Tak ada gunanya lagi bersembunyi, Gurkha pun menerjang maju kedepan.

Pasca serangan tersebut, keterlibatan Gurkha dalam Claret mulai menurun, seiring mencairnya kebekuan antara Indonesia-Malaysia. Presiden Soekarno mulai goyah akibat peristiwa 30 September. Front Borneo pun mulai tenang. Kecuali beberapa operasi kecil seperti yang dilaksanakan 1/10th Gurkha di sungai Koemba pada Februari 1966, menewaskan 37 infiltran. Pada 25 Maret menjadi penanda operasi lintas-batas terakhir Gurkha, ketika lima kompi dari 1/10th sudah ada disekitar markas tentara Indonesia lalu tiba-tiba diperintahkan untuk mundur. Faktanya, dua minggu sebelumnya kekuasaan Presiden Soekarno secara de facto sudah jatuh ke tangan Mayjen. Soeharto- yang tidak menginginkan dilanjutkannya Konfontasi Indonesia-Malaysia.

.

.

Dari segi operasional, kampanye konflik merupakan puncak kejayaan Gurkha, mereka dimekarkan sampai setara dengan tingka Divisi dan mampu membuktikan diri mereka sebagai pejuang tangguh, walaupun mereka lahir di kaki-kaki pegunungan Himalaya yang terletak di dataran tinggi, namun mereka mampu beradaptasi dan bertarung dengan tangguh di dalam lebatnya hutan rimba. Gurkha kehilangan 40 prajurit mereka yang gugur di medan pertempuran, sedangkan 83 prajurit lainnya terluka, ini merupakan catatan prestasi tersendiri jika dibandingkan dengan jumlah kerugian lawan yang mereka hadapi. Catatan resmi Inggris menyebutkan 590 prajurit Indonesia tewas, 222 orang terluka, dan 771 tertangkap. Indonesia sendiri tidak memiliki catatan resmi mengenai jumlah sukarelawan dan prajurit Indonesia yang tewas dalam konflik tersebut. Konfrontasi tersebut disebut juga sebagai kampanye Dwikora. Ironisnya, pasca konfrontasi, kekuatan Gurkha justru sengaja diperkecil, dan mereka tidak pernah dioperasikan di dalam konflik yang sama seperti yang mereka hadapi dalam konfrontasi Indonesia-Malaysia.

Teknik Bertahan hidup

Operasi khusus memiliki resiko lebih besar dari operasi militer konvensional. Biasanya terjadi di wilayah musuh, seringkali dalam medan dan iklim yang tak bersahabat. Walaupun operasi dipersiapkan dengan cermat, masih saja bisa gagal sehingga pasukan khusus harus selalu mengasumsikan bahwa kemungkinan terburuk pasti akan terjadi. Untuk alasan ini, setiap prajurit harus berlatih untuk bertahan hidup dan menemukan jalan pulang ke markasnya.

Kemampuan untuk bertahan hidup dari bencana, cuaca, dan kelaparan adalah persyaratan utama bagi personel pasukan khusus. Para ahli-ahli militer menilai bahwa, prajurit akan lebih banyak menanggung resiko, karena tahu bahwa segalanya bisa saja gagal. Mereka berasumsi bahwa setiap prajurit yang dikirimkan memiliki pengetahuan militer untuk beroperasi di segala jenis medan. Jika semuanya gagal, maka harus akan menghindari penangkapan musuh. Kalaupun gagal, maka para komandan pun tahu bahwa semua personel pasukan khusus dilatih untuk bertahan dari kejamnya integorasi.

MAKANAN, AIR DAN PAKAIAN

Tidaklah mungkin membawa Ransum yang cukup untuk misi yang membutuhkan waktu lebih dari 10 hari. Jadi, Pasukan khusus harus mengandalkan perbekalan yang disembunyikan di tempat-tempat tertentu, atau diisi ulang dari markas. Jika kedua pilihan ini tidak memungkinkan, maka mereka harus menambah perbekalan dengan makanan dan air yang tersedia di medan tersebut. Air harus selalu dimurnikan, karena disentri dapat melumpuhkan seorang prajurit. Bertahan prima dan segar saat bertahan hidup saat kondisi ekstrem untuk waktu yang lama membutuhkan perhatian yang terus-menerus pada perawatan kesehatan diri, khususnya pada kebersihan kaki, gigi, dan luka-luka apapun.

Pakaian basah akan sangat berbahaya karena menyedot panas tubuh yang sangat berharga. Seorang prajurit harus belajar menghemat pakaian kering dan menghindari bahaya terkena hawa dingin yang dapat mengakibatkan bencana. Ada kemungkinan besar bahwa tanpa adanya tempat berlindung (naungan), prajurit akan menggigil kedinginan pada malam hari, atau pada saat mereka tidak bergerak sama sekali pada saat mereka melakukan pengamatan dalam waktu yang sangat lama.

KONDISI EKSTREM

Unit Pasukan Khusus menempuh pendidikan bertahan hidup dalam kondisi dan iklim yang berbeda guna mempersiapkan diri menghadapi misi-misi di medan apapun. Contohnya di hutan, dengan panasnya yang lembab, serangga yang mengganggu, dan vegetasi yang lebat, adalah lingkungan yang berat dan berpotensi tidak sehat. Seorang prajurit terbiasa mengenakan pakaian kotor dan basah hari demi hari, dan hanya mengganti pakaian dengan pakaian yang kering pada malam harinya saat situasi aman di kamp. Saat beroperasi di belakang garis musuh, pasukan khusus menyesuaikan diri dengan apa yang disebut dengan “hard routine” (rutinitas berat). Ini berarti tidak memasak, berbicara, ataupun tidak membuat tempat naungan, dan bergerak dengan penuh kehati-hatian untuk menghindari suara-suara yang tidak perlu. Setiap goresan dan gigitan serangga harus segera disterilkan untuk menghindari infeksi. Karena usaha bergerak melalui hutan yang lebat, tingkat hidrasi tubuh seorang prajurit harus terus dijaga.

 

Jika kondisi hutan yang panas dan lembab memberikan sejumlah masalah yang unik, begitu pula dengan kondisi ekstrem kutub utara yang membekukan. Masalah hawa dingin seperti frostbite dan paparan udara dingin adalah ancaman yang terus ada. Dehidrasi juga merupakan ancaman yang sangat serius, walaupun ada banyak salju dan es. Hawa dingin, udara yang sangat kering, dan juga beratnya pernafasan akibat hawa dingin yang disebabkan oleh ber-ski jarak jauh dengan membawa beban berat membuat tubuh membutuhkan banyak cairan. Perbekalan prajurit juga harus cukup untuk bertahan didalam misi di kutub. Karena ransum kutub yang dibungkus dalam bentuk yang dikeringkan, memerlukan tambahan air sebelum dapat dikonsumsi. Dan untuk mendapatkan air, harus melelehkan salju, untuk melelehkan salju, berarti memerlukan alat-alat seperti kompor dan alat lainnya, yang berarti menambah beban seorang prajurit dari ganasnya medan kutub.

Kondisi gurun juga menghadirkan kesulitan tersendiri dalam bertahan hidup. Tanaman jarang ada, dan bertahan hidup dari alam nyaris tidak mungkin. Kekurangan air juga merupakan ancaman nyata bagi kesuksesan seorang prajurit didalam sebuah misi. Temperatur panas yang membakar dapat mengakibatkan kelelahan dan dehidrasi dalam waktu yang sangat singkat. Khususnya bagi mereka yang membawa senjata dan beban yang berat. Untuk mengatasi masalah ini, biasanya prajurit dibekali dengan 19 liter (4 galon) air per-hari nya. Prajurit juga harus membawa tablet khusus untuk dikonsumsi, untuk menggantikan mineral seperti garam, yang hilang bersama keringat saat dehidrasi.

Setiap lingkungan menghadirkan tantangannya tersendiri. Oleh karena itu, bagi unit Pasukan khusus, penting bagi mereka dalam mempelajari teknik-teknik bertahan hidup dan juga teknik-teknik yang mempelajari keahlian didalam medan dan cuaca yang tidak bersahabat. Teknik-teknik tersebutlah yang menjadi kesuksesan prajurit pasukan khusus dalam bertahan hidup di medan yang ekstrem, yang kemudian menjadi kemenangan didalam suatu misi atau operasi rahasia.

Hello world!

Welcome to WordPress.com. After you read this, you should delete and write your own post, with a new title above. Or hit Add New on the left (of the admin dashboard) to start a fresh post.

Here are some suggestions for your first post.

  1. You can find new ideas for what to blog about by reading the Daily Post.
  2. Add PressThis to your browser. It creates a new blog post for you about any interesting  page you read on the web.
  3. Make some changes to this page, and then hit preview on the right. You can always preview any post or edit it before you share it to the world.
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.