People’s Liberation Army (PLA) – Sejarah PLA

People’s Liberation Army (Angkatan bersenjata RRC) – Sejarah PLA

            Part 1

 .

            The People’s Liberation Army (Tentara Pembebasan Rakyat Cina)- atau yang disingkat PLA; dalam aksara Cina: 人民解放. dan dalam aksara cina tradisional; 人民解放軍, merupakan organisasi unit militer dari gabungan keseluruhan Angkatan Bersenjata RRC (Republik Rakyat Cina), yakni; Angkatan Darat, Angkatan Laut, Unit Penanganan Strategi misil, dan Angkatan Udara. PLA didirikan pada 1 Agustus 1927, dan setiap tahunnya diperingati sebagai “Hari kebangkitan Angkatan Bersenjata RRC” (PLA Day). Angkatan Bersenjata RRC merupakan bagian dari Partai Komunis Cina (CPC; Communist Party of China). Lambang Tentara Pembebasan Rakyat Cina terdiri dari lingkaran dengan gambar bintang merah yang berkaitan dengan Karakter Huruf Cina untuk “Eight One” (Delapan satu), yang merujuk pada  1 Agustus, yang merupakan hari pemberontakan Nanchang 1927.

Lambang PLA
.

            Tentara Pembebasan Rakyat Cina adalah Angkatan Bersenjata terbesar di dunia, dengan sekitar 3 juta personel yang loyal terhadap negara, dan memiliki tentara aktif terbesar di dunia dengan sekitar 2.5 juta tentara. PLA mencakup 5 cabang militer, terdiri dari Angkatan Darat, Angkatan Laut, Angkatan Udara, dan Korps Artileri kedua (Strategi nuklir atau unit Serangan misil udara), dan Angkatan Bersenjata cadangan. Polisi Nasional RRC, dan unit Tentara paramiliter RRC tergabung dibawah arahan langsung dari pemimpin tertinggi Komisi Militer Pusat dan Departemen Keamanan Publik.

.

Pemimpin Hu Jintao menyebutkan fungsi dari Angkatan Bersenjata RRC, yakni;

·         Mengukuhkan dan menegaskan peran dan status dari Partai Komunis

·         Membantu memastikan Kedaulatan Cina seutuhnya, integritas wilayah, dan pengamanan wilayah domestik dalam rangka percepatan pembangunan nasional yang berkesinambungan

·         Ekspansi militer RRC untuk pengamanan nasional

·         Membantu membangun dan menciptakan perdamaian dunia

.

                                Poster diatas adalah tokoh Cina- Mao Zadeong- Doktrin dan pemikiran militernya menjadi doktrin bagi PLA

.

.

Tentara Pembebasan Rakyat Cina (The People’s Liberation Army)- ditemukan pada 1 Agustus 1927, sewaktu pemberontakan Nanchang dari Tentara Koumintang (KMT) memberontak dibawah pimpinan Zhu De, He Long, Ye Jianying dan Zhou Enlai, yang merupakan aliansi komunis. Mereka diketahui sebagai Chinese Red Army. Antara tahun 1934 dan 1935, Red Army menggelar beragam kampanye militer mereka melawan Jendral Chiang Kai-Shek serta menggelar Long March sebagai aksi kampanye.

.

            Ketika Perang Sino-Jepang ke-2, dari tahun 1937 hingga 1945, Angkatan Bersenjata Komunis yang terintegrasi kedalam Tentara Revolusi Nasional RRC, membentuk unit Eighth Route Army dan New Fourth Army. Pada saat itu, dua grup militer ini secara dominan menggunakan perang gerilya, berperang melawan Jepang sementara meneguhkan kekuatan militer mereka dengan menambahkan tentara nasional dan tentara paramiliter di belakang garis pertahanan Jepang.

.

            Setelah berakhirnya Perang Sino-Jepang, Partai Komunis dilebur kedalam dua grup militer dan dinamakan ulang menjadi PLA (Tentara Pembebasan Rakyat Cina) dan pada akhirnya memenangkan Perang Sipil Cina. Disepanjang tahun 1950-an, PLA bersama-sama dengan Uni Soviet mengubah unit militer mereka dari yang semula merupakan Tentara Desa / Tentara Pedesaan, menjadi unit Tentara Modern. PLA juga diisi oleh banyak unit-unit Tentara Revolusi Nasional yang sebelumnya membela musuh. Ma Hongbin dan anaknya Ma Dunjing (1906-1972) adalah dua Jendral muslim yang hanya memimpin unit pasukan muslim, yakni 81th Korps yang pernah mengabdi pada PLA. Han Youwen, Jenderal muslim, juga bergabung ke dalam Tentara Pembebasan Rakyat Cina. Pada November 1950, PLA juga terlibat dalam Perang Korea sebagai Unit Tentara Nasional yang menyerang unit pimpinan AS Jenderal MacArthur yang berusaha mendekati Sungai Yalu. Dibawah serangan ini, PLA membuat unit militer yang dipimpin MacArthur dipukul mundur dan keluar dari Korea Utara dan juga PLA berhasil menguasai Seoul. Perang itu juga dikenal sebagai sebuah langkah penggerak untuk percepatan modernisasi PLA. Tahun 1962, Tentara Pembebasan Rakyat Cina juga turut berperang di India dalam Perang Sino-India, yang dengan sukses menetralisir kekuatan pertahanan India dan menguasai target-target vital.

            Sebelum Revolusi, Komandan wilayah militer cenderung menetap di sebuah post dalam jangka waktu yang lama. Ketika PLA mengambil peran dalam politik, ini mulai terlihat sebagai sebuah ancaman untuk partai (atau, kurang lebih, ancaman untuk warga sipil). Komandan wilayah militer yang mengabdi cukup lama adalah Xu Shiyou di Wilayah Militer Nanjing (1954-1974), Yang Dezhi di Wilayah Militer Jinan (1958-1974), Chen Xilian di Wilayah Militer Shenyang (1959-1973), dan Han Xianchu di Wilayah Militer Fuzhou (1960-1974).

Membangun sebuah unit militer yang handal yang dipersenjatai dengan persenjataan modern dan dibumbui dengan sebuah doktrin, merupakan sebuah modernisasi militer ke-4 yang diumumkan oleh Zhou Enlai dan didukung sepenuhnya oleh Deng Xiaoping. Untuk menjaga mandat Deng untuk melakukan perubahan, Tentara Pembebasan Rakyat Cina telah menggerakkan berjuta-juta kaum lelaki dan perempuan sejak tahun 1978, dan memperkenalkan metode perang modern. Tentara Pembebasan Rakyat Cina menyediakan rekrutmen tentara, manpower, strategi militer, dan latihan serta pendidikan militer. Tahun 1979, PLA kembali bertempur di Vietnam, di sebuah wilayah perbatasan dalam Perang Sino-Vietnam, dimana dilaporkan oleh media Barat bahwa Cina kehilangan lebih dari 20,000 Tentara. Namun kedua-belah pihak (Cina dan Vietnam)- bersikukuh mengklaim memenangkan perang tersebut.

            Awal permulaan tahun 1980-an, PLA mencoba mengubah diri mereka, dari yang sebelumnya (kekuatan tempur Angkatan Darat), kini menjadi Kekuatan Militer dengan cakupan yang lebih luas, mobile, dan pasukan dengan teknologi tempur tinggi. Motivasi dari perubahan ini adalah berawal dari invansi besar-besaran Rusia yang tidak lagi dilihat sebagai sebuah ancaman besar, dan ancaman-ancaman baru ke daratan Cina dilihat sebagai deklarasi kemerdekaan Taiwan, kemungkinan dengan bantuan dari AS, atau sebuah konfrontasi disepanjang Pulau Spratly.

            Tahun 1985, dibawah kepemimpinan Komisi Pusat Partai Komunis Cina dan CMC, PLA berubah menjadi “Penyerang dini, Pasukan pemukul tangguh dan berfokus dalam Perang Nuklir” untuk pembangunan percepatan militer di sebuah era perdamaian. PLA berorientasi pada modernisasi angkatan perang, peningkatan kemampuan perang, dan menjadi sebuah unit militer professional di dunia.

 

            Deng Xiaoping menekankan PLA untuk lebih fokus terhadap kualitas daripada kuantitas. Keputusan Pemerintah Cina di tahun 1985 yang memperkecil jumlah kekuatan militer menjadi satu juta di tahun 1987. Staf militer dipotong hingga 50 persen. Disepanjang Rencana Perang Ninth Five (1996-2000), PLA diperkecil dengan hanya 500,000. Tentara Pembebasan Rakyat Cina juga diharapkan akan diperkecil lagi pada tahun 2005, dengan hanya 200,000 personel. Tentara Pembebasan Rakyat Cina berfokus pada peningkatan mekanisasi dan pengumpulan informasi intelijen agar mampu menyediakan perang dengan intensitas tinggi.

            Perang Gulf di tahun 1991, membuat RRC menyadari realita bahwa jumlah kekuatan PLA terlalu besar. Sebagai tambahan, Komando militer RRC telah mengamati dan belajar banyak dari kesalahan-kesalahan Amerika Serikat dalam Perang Kosovo, Perang Afghanistan 2001, Perang Irak 2003, dan Pemberontakan Irak yang sedang berkembang. Semua itu mengilhami dan menginspirasi Cina untuk merubah Tentara mereka, dimana mereka berpegang teguh pada prinsip kualitas, ketimbang kuantitas.

            Jiang Zemin secara resmi membentuk RMA (Revolusi Hubungan Militer) menjadi bagian resmi dari strategi militer nasional di tahun 1993 dalam rangka untuk memodernisasi Angkatan Bersenjata Cina. Tujuan Revolusi Hubungan Militer Cina adalah merubah PLA menjadi Organisasi Militer tangguh yang mampu memenangkan perang, dengan sebutan “Perang lokal dibawah kondisi dan situasi teknologi militer tinggi” daripada melakukan serangan besar-besaran. Dibandingkan dengan masa lalu, Cina sekarang lebih fokus terhadap misi pengintaian dan mata-mata, mobilitas, dan jangkauan militer jarak jauh melalui peralatan perang mereka. Visi baru ini juga melahirkan Angkatan Laut dan Angkatan Udara. PLA juga secara aktif mempersiapkan Perang Jarak Jauh (Perang misil antar-benua) dan Perang Dunia Maya (Cyber-warfare).

                Dalam 10 hingga 20 tahun terakhir ini, Angkatan Bersenjata RRC telah mendapatkan beberapa peralatan perang dari Rusia, termasuk Sovremenny Class Destroyers, Pesawat Sukhoi Su-27 dan Sukhoi Su-30, dan Kapal Selam bermesin diesel-elektrik Kilo-Class. Juga dilengkapi dengan beberapa peralatan Artileri penghancur dan kapal Perang layar termasuk Misil Penghancur Tipe052C AAW class. Angkatan Udara Cina juga membangun Pesawat mereka sendiri, berjenis J-10 Fighter. PLA juga merilis Kapal Selam Nuklir terbaru Jin Class pada 3 Desember 2004, yang mampu meluncurkan Rudal Nuklir yang dapat menjangkau target hingga mencapai perairan Samudera Pasifik.

.

.

Referensi dari; Wikipedia.com – Diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia

 

 

 

Posted on February 23, 2012, in RRC (China). Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: